Rabu, 26 September 2007

Tapi Bukan Aku..

23 September 2007
Dear Diary..
Dia telah pergi..
Dan nggak akan kembali..
Baru sehari, tapi saat ini aku kangen dia. Dia ngapain, ya sekarang. Bagaimana kabarnya..
Inilah keputusanku. Inilah prinsipku.
Namun, cinta ini, sayang ini, akan selalu ada untuknya. Entah sampai kapan. Aku juga nggak tahu. Walaupun aku nggak kuat, tapi aku nggak bisa menjilat ludahku sendiri. Aku juga nggak mau kehilangan prinsipku lagi.
Seandainya dia tahu..
Walaupun dia sudah melupakan aku, namun aku akan selalu ada untuknya..
Karena dia yang pertama. Dia yang membuatku menjadi gadis paling bahagia sekaligus menjadi gadis yang paling malang. Dia memang bukan orang yang sempurna. Tapi bagiku, sampai saat ini dia yang terbaik..
Aku nggak tahu, sejak kapan rasa ini kembali lagi. Tapi seiring waktu yang berjalan, rasa ini kembali menyusup lewat celah hatiku yang memang tidak kukunci. Karena kunciku kutinggalkan padanya. Hanya dia yang bisa menutup dan membukanya..
Seandainya dulu dia bisa menunggu,
Seandainya dulu aku sudah belajar memaafkan,
Seandainya dulu aku lebih banyak berbuat sesuatu untuknya,
Seandainya dia tahu, aku menangis di sini untuk kesedihannya, dan untuk kekecewaannya.
Seandainya dia juga tahu, aku nggak akan pernah melupakan rasa bahagiaku saat bersamanya. Ketika aku merasa bahwa matahari, bulan, dan bintang tersenyum padaku lewat senyumannya. Dia selalu membuatku bahagia, tapi, hanya kesedihan dan dilema yang aku buat untuknya.
Dan seandainya dia tahu, dengan keputusan ini, duniaku menjadi lebih gelap dari dunianya..
Ah.. selalu seandainya..
Aku bosan dengan anganku, aku bosan dengan harapku, aku bosan dengan mimpi-mimpi itu..
Tuhan..
Izinkan aku mencintainya dengan tulus. Izinkan aku menyayanginya tanpa berharap..
Jujur, aku ragu dengan keputusan yang aku ambil. Pikirku mengatakan aku harus kuat, tapi hatiku menolaknya. Aku takut lama-lama rasa ini akan tertumpah, mengotori semuanya. Rasa ragu untuk bertahan semakin mendesak saat aku menanyakan ini kepada seseorang. Dia mengatakan, dengan aku mengambil keputusan ini, sama saja dengan aku menyiksa diri.
Hampir saja aku membuang semua harga diriku. Hampir saja aku bersiap memasang topeng di balik mukaku. Dan hampir saja aku menjilat ludahku sendiri. Untungnya Tuhan nggak mengizinkan aku melakukan itu. Satu sinyalku untuknya tidak mendapat respon, mungkin Tuhan memilih membuatku bersabar dan teguh akan prinsipku dengan menjauhkan dia dariku.
Tapi sore itu, entah apa rencana Tuhan, sehingga mama tanpa sengaja mengirim pesan buat dia. Layarnya kosong. Dalam hati aku berharap dia akan membalas. Tapi sayang, Tuhan belum mengizinkanku bahagia bersamanya.
Inilah kelemahanku,
Inilah kejelekanku,
Tapi ini juga suatu kebanggaan buatku.
Aku tidak mudah menyayangi seseorang, tapi sekali aku menemukan sayang itu, aku nggak akan mudah melupakannya. Berapa kali pun dia menyakiti, tapi rasa itu nggak bisa hilang semudah aku mengedipkan mata.
Orang bilang aku jahat, orang bilang aku terlalu idealis. Walaupun ada seribu perhatian dari banyak orang, aku tetap tidak bisa berpaling. Apalagi dalam keadaan seperti ini, keadaan di mana di hatiku telah berakar kuat oleh nama seseorang.
Aku nggak bisa berpura-pura bersikap manis jika aku nggak sayang sama mereka. Aku nggak bisa dengan tenang menerima perhatian dari orang yang aku nggak sanggup untuk membalasnya. Aku takut melukai mereka lebih dalam. Aku takut menjadi orang yang membuat seseorang jatuh cinta tapi tidak membantu mengangkatnya setelah jatuh.
Mungkin aku memang jahat. Aku terlalu sering menyakiti orang yang sayang sama aku. Tapi mengertilah, itu aku lakukan karena aku nggak ingin lebih menyakiti mereka. Aku nggak ingin menorehkan luka lebih dalam di hati mereka. Dengan aku bersikap jahat, aku berharap mereka akan menemukan orang lain yang lebih baik dari aku dan bisa membalas cinta mereka dengan tulus seperti rasa sayang mereka.. dan aku bukanlah sebaik yang mereka kira..

Tidak ada komentar: