24 September 2007
Dear Diary..
Gagal, hancur, berantakan!
Apa yang aku pelajari, nggak ada hasilnya. Semuanya hilang disapu arus waktu. Ketenanganku sirna. Apa yang dua tahun ini seharusnya bisa menjadi kebanggaanku berbalik menghancurkanku. Apa salahku? Ataukah ini teguran, ujian, atau malah kebaikan? Sebenarnya apa rencana Tuhan? Apa aku terlalu sombong? Apa aku belum pantas menjadi yang terbaik? Ah, Tuhan.. Kalau memang ini penghalang yang wajib aku lalui, ikhlaskan aku, dan jadikanlah aku lebih baik..
Tapi Tuhan,
Terimakasih atas kemudahan yang Engkau berikan waktu-waktu selanjutnya. Terimakasih atas kelancaran dan-jika aku nggak terlalu berlebihan-kesempurnaan yang telah Engkau anugerahkan, Tuhan.. Mungkin ini cara-Mu menghilangkan sedikit kesedihan dalam hatiku atas ulah sesama makhluk-Mu.
Hari ini,
Matahari tetap bersinar, bahkan lebih terik dari biasa..
Tapi hatiku tetap terselubung mendung yang aku nggak tahu bagaimana cara mengusirnya. Tapi anehnya, tidak ada hujan yang turun di sana. Lama aku menunggu, kesejukan itu nggak kunjung datang. Bunga-bunga di hatiku pun layu sebelum sempat bermekaran. Tuhan, sebenarnya apa rencana-Mu..?
Jam 10.45am,
Hatiku tidak tenang. Diakah yang menyebabkannya? Bagaimana tidak, sejak aku sms tengah malam, belum ada balasan sekalipun. Marahkah dia padaku? Tuhan, kalau dia marah, berarti Engkau telah berhasil membuat hariku kali ini menjadi suram. Tapi Tuhan memang baik. Ketika kutanyakan, ternyata dia nggak marah. Awalnya memang iya, tapi dia dengan tersenyum mengatakan bahwa dia nggak marah.
Tapi mengapa aku tetap tidak tenang?
Matematika-kah yang jadi sebabnya?
Aku pun sadar. Ternyata kegalauan ini belum terusir juga. Dengan segenap ketulusan hati, aku memohon uluran tangannya untuk sekedar menemaniku. Beberapa menit kemudian, aku tahu, Tuhan belum mengizinkannya. Untuk kali ini Tuhan menginginkanku mengusir kegalauan ini sendiri. Dia memilih bersamanya.. menghabiskan siang itu dengan yang lain..
Aku menangis dalam hati. Kenapa di saat aku benar-benar membutuhkan uluran tangan seseorang, dia malah pergi dengan yang lain.. Kenapa di saat aku ingin bersandar kepadanya, dia menawarkan bahunya untuk tetesan air mata yang lain..
Aku sadar, aku bukan apa-apa, aku tak berarti apa-apa. Tapi salahkah aku jika aku ingin sekali saja merasakan belaian tangannya di kepalaku, dan menenangkanku barang sedetik saja. Hanya sebagai seorang kakak. Salahkah saat aku ingin menagih janjinya untuk selalu ada buatku saat senang maupun susah? Salahkah..? Padahal sebisa mungkin aku akan berusaha untuk selalu ada untuknya. Selalu menjadi sandaran hatinya walaupun hatinya bukan sepenuhnya untukku. Salahkah jika aku berharap hal yang sama..?
Ya, aku salah.
Aku salah. Aku salah.
Aku salah terlalu berharap kepadanya.
Aku salah nggak pernah mau menerima kenyataan bahwa rasa sayangnya untukku nggak sebesar rasa sayangku untuknya..
Tetap berusaha tersenyum, aku pulang. Menata hati dan langkah. Akhirnya aku pun tertidur dalam kegalauan..
Tapi apa yang aku lihat?
Dalam keremangan, ketidak jelasan, dia berdua dengannya. Memupuk kembali rasa yang hampir menghilang. Hatinya telah tertawan sekali lagi. Dan aku nggak sanggup melepaskannya. Mengeluarkannya dari menara itu. Itu terlalu tinggi. Dan aku juga nggak memiliki kuncinya. Pintunya terkunci. Dan lagi terlalu banyak. Di tingkat paling atas, dari sebuah jendela, kulihat dia tersenyum. Bahagia. Aku nggak tega menghilangkan senyum itu. Aku nggak sanggup meredupkan binar matanya. Tuhan.. sanggupkah aku merelakannya? Sanggupkan aku berbalik menjauh tanpa meneteskan air mata?
Akhirnya, aku telah keluar melewati pagar istana itu. Menunduk memandang jalanan yang berbatu. Jejak kakiku hilang disapu angin. Dia nggak akan pernah tahu kalau aku telah datang ke sana.
Bayangan itu perlahan menghilang. Aku meraih handphone, dan melihat namanya tertera di layar. Dia bertanya apa aku marah. Aku hanya sedikit kecewa. Dalam lubuk hati, aku ingin dia menyampaikan rasa bersalahnya. Aku ingin tiba-tiba melihatnya berdiri di depan pintu rumahku dan mengucapkan, “aku sekarang di sini untukmu”. Walaupun tidak begitu. Aku ingin setidaknya dia bertanya mengapa aku sedih. Walaupun hanya sekedar sms, aku ingin merasa dianggap olehnya. Aku ingin merasa diperhatikan. Ah, apakah arti seorang ‘aku’ untuknya.. aku berharap terlalu banyak. Bermimpi pun aku ragu aku bisa..
Tuhan,
Inikah yang dinamakan patah hati?
Inikah cintaku yang pertama?
Kenapa harus setragis ini, Tuhan?
Harapku, aku ingin terus menyayanginya. Aku ingin selalu ada untuknya. Aku ingin selalu menjadi tawa baginya. Aku ingin terus melihat senyumnya, walau dengan itu aku harus terluka.
Rasa ini akan terus kujaga sampai aku menutup mata nanti..
Rasa ini terlalu indah untuk dihilangkan dan disesali..
Terimakasih,
Karena kau, aku diberi kesempatan untuk memiliki rasa ini..
Jika besok atau kapan aku harus pergi, aku ingin engkau tahu, bahwa semasa aku bisa melihat matahari, aku selalu mengenangmu..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar