Rabu, 26 September 2007

The Stars of my Life

25 September 2007
Dear Diary..
Jam 11.40..
Suasana kelas lengang sudah. Jelas saja, baru empat puluh menit yang lalu bel pulang berbunyi. Hanya tersisa beberapa anak. Itu pun bukan karena mereka cinta sekolah. =)
Huh..
Saat ini aku sangat jengkel akan kelemahanku. Padahal sudah jelas-jelas aku tahu, sudah jelas terpampang di hadapan mataku. Dia terlalu jauh. Kerlip mengiyakan pun tak kutemukan sejauh ini. Jadi, mengapa aku tetap mempertahankan keras kepalaku ini? Mengapa aku tetap lari di tempat? Sekarang engkau tahu, mengapa aku benci sekali pada diriku yang seperti ini..

Jam 12.15.. (Masjid Agung Sidoarjo_)
Tuhan memang Maha Indah, maha segala-galanya. Buktinya adalah tempat ini, begitu indah dan damai. Hingga terik matahari pun tak sanggup mengusir keteduhannya. Seandainya hatiku bisa seindah itu..
Mengapa keteduhan ini masih belum bisa mengusir kegalauanku? Galau akan cinta dan benci. Galau akan perasaanku yang belum menemukan tempat untuk bermuara..
Aku bingung.
Aku gundah.
Rasa sayang ini berbalik membunuhku. Cinta ini tak lagi berpihak padaku.
Aku kacau.
Aku bisa melihat. Tapi seakan aku buta. Semua yang ada di hadapanku menjadi kelam. Hitam legam. Saat cinta dan sayang mulai bicara, akal sehat pun tunduk menjauh. Aku benci ini semua. Aku benci..
Tuhan, sampai kapan aku sanggup bertahan..?

13.00 (Masjid Agung Sidoarjo_)
Hanya sejenak mataku terpejam. Terbuai oleh semilir angin. Sunyi sekali.. Sesunyi hatiku..
Ah, harapanku semakin menghilang, menjauh dan membumbung tinggi melayang tak dapat kugapai. Namun, sepatutnya aku harus tetap tersenyum. Aku masih diberi kesempatan merasakan indahnya setulus hati mencintai seseorang..
Sore ini, mungkin adalah sore terakhir.
Saat-saat terakhir aku bisa menyampaikan rasa ini untuknya. Dan setelah ini aku akan menurunkan tirai panggung sehingga bayangannya pun tak akan tampak. Aku akan membebaskannya sekali lagi..
Dan setelah ini, mungkin aku akan terdampar, jatuh dalam ruang gelap tak berdasar. Sehingga aku hanya bisa merasakan angin di semua sisi tubuhku. Meremukredamkan tulangku dan aku akan buta terhadap semuanya. Walaupun mataku terbuka, namun dia tetap tertutup..
Dan hatiku akan kembali terbelenggu..
Termangu akan datangnya sebuah penantian..

18.00 (Home Sweet Home_)
Pikiranku penuh sudah. Matematika dan kimia. Harusnya tak kan ada lagi sisa untuknya. Namun, entah seluas apa pikiranku ini, sehingga namanya pun tetap terukir di sana..
Hari ini aku belajar sesuatu.
Harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Untuk itu kita harus melebarkan sayap agar jiwa kita ikut melebar dan hati kita pun selapang langit di angkasa..
Marah itu nol.
Tak ada alasan untuk marah. Aku benci dengan nilai nol. Aku tidak boleh marah. Aku harus belajar memaafkan. Hanya bisa memohon agar kesabaran dalam diriku tidak terbatas..
Aku ikhlas, semuanya terasa ringan.
Aku melangkah tanpa membawa beban. Entah mengapa, tapi ini kenyataan. Aku bangga akan diriku. Aku bangga mempunyai tiga orang sebagai sandaranku saat aku hampir jatuh. Aku bangga mereka bilang bahwa aku harus menaikkan harga diriku di depannya. Sekalipun aku sangat menyayanginya. Aku bangga aku tidak menangis. Lahir dan batin..
Sahabat memang layaknya api abadi. Mereka tidak ikut menghilang saat embun harus mengering. Mereka tidak ikut pergi walaupun angin mempermainkan ujung dedaunan..
Mereka meyakinkanku. Mereka tidak menyalahkan perasaanku, sayangku, dan cintaku. Yang mereka inginkan hanya agar aku tidak disakiti lagi. Mereka adalah mataku saat aku merasa buta akan sekelilingku. Mereka adalah tongkatku saat pijakanku mulai rapuh.. mereka membuka mataku dan hatiku agar kebutaanku sirna. Agar aku bisa kembali melihat dunia.
Dan aku pun ikhlas kehilangannya...

Tidak ada komentar: